Ku Jemput Jodohku : Menanti si-Dia yang Masih Misteri

Pertama, hati-hati dengan VMJ alias Virus Merah Jambu.

Ah, lagi-lagi ini penyakit kronis yang selalu diderita ikhwah. Sehingga menimbulkan DCTB alias Derita Cinta Tiada Akhir, seperti yang dikatakan penulisnya dalam buku. Untuk menghindari VMJ, setidaknya kita harus memahami ulang apa itu batasan-batasan dalam bergaul dengan lawan jenis. Karena jika memang sudah terkena, akan lumayan sulit menghapus bayangan-bayangan si-dia yang ditimbulkan si VMJ ini. Apalagi jika masa kritisnya sedang tiba, wah… bisa kena futur berkepanjangan itu.

Seperti yang ditulis penulis mengenai SMS di halaman 37. ya, hati-hati dengan SMS. Jika memang harus berkomunikasi dengan lawan jenis baik itu via alat komunikasi seperti SMS atau chatting misalnya, cukuplah mengungkapkan hal-hal yang perlu saja. Tidak usah menambah-nambah pembicaraan yang tidak penting. Karena dari sana akan terbuka pintu VMJ. Kalo kata Justice Voice, “Jangan Mepet-Mepet!”

Kedua, tidak ada larangan bagi akhwat untuk mengkhitbah.

Ya, tidak ada larangan bagi akhwat untuk memilih jodohnya sendiri. Memang saat ini ada kesan negative bahwa jika akhwat yang mengkhitbah ikhwan, bukan sebaliknya. Namun selama itu dalam koridor syar’I, apa bisa dikatakan murahan? Dalam sejarah pernikahan Khodijah dengan Rasulullah pun ummirul mukminin kita itu yang meminang Rasulullah, bukan sebaliknya. Jadi buat para ikhwan, jika datang akhwat yang meminang, apalagi bagus dari segi agamanya, apakah ada alasan untuk menolaknya? Atau jika memang tidak ingin, apakah ada alasan untuk mempermalukannya?

Ketiga, bersikaplah sopan dalam setiap meminang dan menjawab pinangan.

Maksudnya, ketika kita ingin mengkhitbah seseorang, jangan asal main khitbah saja. Namun cobalah selidiki dulu seperti apa orang yang akan kita khitbah itu melalui orang yang terpercaya. Itu akan lebih baik dan membuat kita lebih yakin dengan kondisi seseorang yang akan kita khitbah.

Dan ketika kita mendapat tawaran pinangan, pastinya ada dua pilihan di benak kita. Yakni apakah kita akan menerimanya, ataukah kita akan menolaknya. Maka bersikaplah sopan dalam menunjukkan kedua jawaban tersebut. Apalagi jika kita memang ingin menolak. Maka menolaklah dengan sopan dan baik, supaya yang bersangkutan tidak merasa terhinakan.

Keempat, jangan pesimis jika memang si-dia yang dinanti belum datang.

Ya, sebenarnya inilah inti dari buku ini. Jangan pernah pesimis jika memang jodoh kita belum datang. jangan berkecil hati, apalagi rendah diri. Seperti yang dikatakan di back cover bukunya, “Tiada yang salah dengan janji-Nya. Tiada yang meleset dengan ketetapan-Nya. Tiada yang keliru dengan segala iradat-Nya. Semua telah dituliskan. Setidak kejadian telah dibukukan.”

Ya, begitulah sekilas resensi yang ditulis oleh Fadhilatul Muharram dari buku yang berjudul : Kujemput Jodohku . Semoga kurang lebihnya bermanfaat. Amin!

4 Tanggapan

  1. Virus hantu raya ni … kunjungi blog saya. bacanya.

  2. wadew, klo sudah ngemeng2 virus meerah jamboe, emang gada habisnya… @_@

    pa lagi soal jodoh ^_^ yang masih misteri, tapi intinya teruslah memperbaiki diri tiada henti, karena jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri…

    laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik,
    perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik…

  3. Yupz thats right…
    bwt menghadapi VMJ klo mang blum siap nikah bagusnya sih SimPaTi (Simpan Dalam Hati)

    but klo dah siap, bwat pa ditunda-tunda bukannya pernikahan adalah sesuatu yang harus disegerakan pabila kita dah siap & mampu
    betul ga…????
    🙂 🙂

  4. let it flow…!!!
    ngikut ortu aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: